Follow Us:

RSS

Wellcome to Our Website

We are working on our website design. We are sure this new website will completely blow your mind! Subscribe by entering your e-mail below to stay updated on our progress.

Launching
comeback
launchpad

Rabu, 22 September 2010

Semua berawal dari mimpi. Mimpimu apa, Khar?

Benarkah seperti itu adanya? Bahwa kita menjadi apapun hanya berbekal mimpi?

Kata Arai, "BERMIMPILAH. MAKA TUHAN AKAN MEMELUK MIMPI-MIMPI ITU."

Setiap orang pastilah punya. Ia ingin jadi apa kelak, itulah mimpi. Ia mau pelesir mengelilingi dunia, itulah mimpi. Even, anak kecil yg minta orang tuanya bisa memberinya mainan, itu juga mimpi. Sekarang pertanyaannya; Apakah sekedar mimpi kita bisa mendapatkan apa yg kita mau?

Ternyata tidak. Ada beberapa hal harus kita lakukan agar mimpi itu menjadi nyata.

Pertama, kuatkan mimpi itu. Ya, mimpi itu harus terus dikuatkan agar nantinya mimpi itu tak menguap di tengah perjalanan. Jangan sampai mimpi itu tiba2 hilang karena terlalu lemah.

Kedua, berusahalah mewujudkannya. Mimpi takkan menjadi seperti apa yg kita maui kalau hanya berwujud mimpi. Ia harus diusahakan, ia perlu kerja keras, dan perjuangan sehingga tak hanya sebatas mimpi.

Terakhir, berdoalah. Tuhan adalah Pengatur segalanya. Ingat, hal kedua dan ketiga ini benar2 erat kaitannya. Orang yg hanya usaha tanpa Doa, ialah orang yg SOMBONG. Pun, sebaliknya. Berdoa tanpa adanya usaha semua itu bakal SIA-SIA.

[ Mimpi>Azzam>Usaha>Doa = Apapun mimpi kita pasti jadi nyata. ]

Berazzam lagi, Khar. Tambahan semangat di kuliah...

Benar. Dalam perjalanan kali ini memang harus dimantapkan lagi Azzam yg sudah kupancangkan kala di rumah kemarin.

Bersiap untuk sebuah metamorfosis.


< Azzam = mimpi (kupikir sih). Karena, lagi trend Mimpi adalah kunci. >

Berangkat ya, Khar.? Hati-hati dan jangan lupa sama cita-citamu.

Aku, Ady, Okky, dan Yusuf hari ini otw ke Rawamangun. Tempat kami mengais masa depan. Diantar oleh Ayah Ady sampai Rajabasa. Oya, satu orang lagi yg ada bersama kami, Gita. Yg kuliah di UNS. Katanya kehabisan tiket. Ketika di Rajabasa, seorang kawan perempuan SMA, sudah menunggu. Umi, seorang kawan yg susah untuk mengucap huruf 'R'. Dia kuliah di IPB. Dia diantar oleh kawan kami juga yg kuliah di Unila.

Masa depan?
Pernahkah kita berpikir bhwa ia adalah pengacak pikiran kita. Ia selalu menakuti kita. Membayang-bayangi setiap langkah kita. Dan kadang pikir sehat kita dimintanya.

Ya, bak bayangan, ia dekat dgn kita. Bukan untuk menemani tapi menyebarkan racun ketakutan yg membuat pikiran kita sering tak fokus.


< Renungkan (sambil dinyanyikan): "Mau dibawa kemana masa depan kita?" >

Tak apa, Khar. Ini memang fase untukmu...

Benarkah tak apa?

Oke. Biar Teman2 bntu aku cari jawabannya.

SMA, yg kata bnyak orang adalah masa paling indah memang benar adanya. Setidaknya, itu yg kurasakan.

Tersebab karena hal ini:

Aku bisa dikatakan salah satu Secret Admirer bagi cewek yg Tak Boleh Disebut Namanya ini. Bagian dari berderet barisan yg kagum pada sosok cantiknya. Tpi, aku hanya sbgai Pengagum. Tak perlu melontar jala yg bisa membuatnya terperangkap [pede kali aku. Emang dia mau].

Kalau boleh menggunakan gambaran Hiperbola yg berlebihan (Nah, udah hiperbola. Over pula) akan seperti ini jadinya.

Dia cantik. Bagai Bidadari tak tahu turun darimana.

Dia anggun. Bak burung merpati. (Kayaknya seperti itu. Tak pernah tau sifat gerak gerik merpati)

Dia SELALU mengikutiku. Di pojok perpus ia ada, di kantin ia hadir, di ruang kelas, lebihlebih, ia muncul, di kantor guru ia malah menggantung menutupi jadwal pelajaran.

Di lapangan basket, ia mendribble hatiku maju mundur dan seperti langsung ia masukkan ke keranjang hatinya (inget! over hiperbola. Jangan ada yg protes). Pokoknya kemana2 dia mengikutiku. Bahkan, parahnya seperti ini; ia bisa menjelma siapa saja.

Kadang wali kelas perempuanku, teman sekelasku, ibu kantin, dan mbak penjaga perpus. Ah, Cut Nyak Din pun serasa dia.

Ternyata eh ternyata bkn dia yg mengikuti dan bisa menjelma jdi siapa saja. Kekagumanku padanyalah yg membuat ia ADA DIMANA2. Every place in my school in the past.

Tpi, lumrahkah? Inikah fase yg tak apa2 untuk masa2 SMA. Not. This is not the right time.

Fase seperti itu harus bisa kita kendalikan. Coba kalo tidak. Bakal jdi apa dia olehku karena sugesti tentangnya ada dimana2..

Cinta memang hakikat. Ia tak bisa ditebak karepè (Maunya) dan kapan datangnya. Dan kalau ia dtng, kita hrz berusaha tetap berada di koridor islami.


< Ngarep: "Aku mau jadi ustadzah di rumahmu, Akh." kata Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. >

Sedih ya, Khar? Belum jodoh lebaran ini...

Tak apa sebenarnya meski kedatangan Mas Sep dari Batam cancelled. Tapi, kecewa juga. Tak hanya aku, orang rumah juga (sedikit) kecewa. Apalagi Mamak yang sudah lama tak berjumpa dgn cucunya.


< Kebahagiaan bisa dgn mudah pergi dri kita. Jangan terlalu berlebih ketika Bahagia atau saat sedih, karena keadaan itu bsa dgn cepat berganti >

Bangun, Khar! Kamu itu anak kampung yang sudah tua

Brtemu dngn masa lalu, entah itu sebatas memori (kenangan) yg kita dpat dari ingatan atau gambar, atau brtemu langsung dgn para lakon masa lalu itu, sngguh mnimbulkan kesan yg brbeda-beda. Ada yg malu, bangga, dan ada yg sperti trsadar bhwa kita tlah keluar dari jalur yg kita mau dulu. Pun, kita jdi sadar darimana asal kita ssungguh'ya.

Untukku, aku mrasakan kesan yg terakhir.

Inilah sebab'ya.

Masa mnuntut ilmu stelah SMP yg trtunda 2 thun mnakdirkanku blajar dgn tman2 yg lebih muda. Aplagi ktika kuliah aku hrus mnerima bhwa aku jga hrz mnganggur dua thn sblum akhirny mnjadi mhasiswa. Teman kuliah bhkan ada yg brjarak 5 thn umurny dibnding dgn umurku. Nasib. Nasib.

Sungguh. Kenyataan mnjadi 'the oldest' di SMA dan kampus mmbuatku benar2 keluar jalur. Seakan wajib bagiku mnganggap bhwa mreka seumuran dgnku shngga aku pun tak malu kalau hrz sdikit brtingkah lbh muda dari umurku, bnyak main2, Childish, dn jarng serius. Padahal, sehrznya tidak seperti itu. Terkadang akupun tak lagi mnjadi dri sndri. Tak sadar bhwa ada satu tingkat kdewasaan dan pengalaman yg seharusnya kumiliki.

Alhasil, aku menjadi pribdi yg tak pnya prinsip dan t'bwa arus.

Untung'ya, tindakan keluar jalur ini akhrnya kusadari hari ini ktika aku brkumpul dgn tman2 SMP-ku dlu. Ada dri mreka yg sdh mapan, jdi guru, pny usha sndiri, b'keluarga, dan ada yg sdah pnya anak. Mereka terlihat dewasa, brpikir masa depan, dan tentu serius dgn hdup.

Kmudian muncul pikiran "Inilah habitatku sbenarnya. Yg tak perlu susah2 usaha mnyeimbangkan umur. Tak perlu jaim. Dan aku bsa jdi dri sndri. Sperti merekalh aku shrznya, tak lagi mnghabiskn waktu untk bnyk brmain. Sudah saatny aku brpikir lbh jauh tntang masa depan. Tak bnyk hura2. Dan saatnya fokus bhwa wktu terjun ke khdupn sbnarnya sudah dekat. Mnjadi bgian dri masyarakat sejati.

Ya, aku mmg sudh jauh keluar dri lintasan sharus'ya. Tak hanya umur tpi, gaya hdup jg jauh dri keadaan sbnr'ya. Sok borjuis pdahal aku adalah anak kampung.


{ Menyedihkan }.

Wake Up, Khar!

Mereka merabaku di setiap pagi. .
Membuat kadang begidik jijik. .
Tak tahu kalau aku ingin terjaga. .

Setiap waktu dalam kehidupan ini patut untuk dikisahkan ulang

About LeetPress

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Popular Posts

Pengikut

Archives